[Sulli Birthday Event] HEARTACHE–Ninischh

Heartache

 

Heartache| Romance | PG-15

Oh, ya Tuhan. Lebih baik Jinri jatuh cinta pada kakaknya sendiri saja sejak awal.

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

Heartache

Choi Jinri, Lee Taemin

Standard Disclaimer Applied

2016©Ninischh

Present

.

{a party invitation}

“Ini yang terakhir, ya,” ucapnya dengan senyum kecil.

Jinri menggeleng tak rela kemudian berusaha meraihnya dengan kedua tangan, namun sayangnya lagi-lagi tak sampai. Jinri tak akan pernah mencapainya.

Tidak akan.

.

Saat itu Jinri sedang bosan-bosannya dengan hidup. Ia berada di penghujung tahunnya di masa perkuliahan. Ia semestinya menyelesaikan tugas akhir, persidangan, tanda tangan orang penting, dan tetek bengek lainnya yang mesti ia rampungkan untuk ikut wisuda, mendapat ijazah serta predikat sebagai seorang sarjana. Namun Jinri malah mengundurkan diri dari kerja part time nya, kemudian pulang ke rumah dengan harapan akan mendapat ilham—pencerahan di rumah.

Yang dimaksud dengan rumah adalah apartemen dengan kitchen set silver yang bersih dan ruang teve yang lega, tempat kakaknya berada. Kemudian di hari libur, sang kakak, yang khawatir dengan keadaannya, menawarkan Jinri untuk ikut menemani sang kakak keluar hari itu.

“Ada pesta,” kakaknya mengedip jahil ketika Jinri tanya hendak ke mana. Tak ada kerjaan lain, maka pergilah Jinri.

Sang kakak pergi ke salah satu cafe sepi yang nyaman tak jauh dari pusat kota. Ternyata di sana ia hendak bertemu dengan teman-temannya, katanya teman masa kuliah dulu. Seperti reuni kecil-kecilan. Jumlahnya kira-kira lima orang, dua diantaranya perempuan.

“Halo semua, maaf terlambat. Seseorang yang kubawa ini butuh waktu lama untuk bersiap,” kakaknya menyenggol lengan Jinri dengan siku. Jinri meringis, memperhatikan mereka yang duduk di sana.

“Akhirnya bawa cewek juga, lo! Siapa, tuh? Kenalin ke kita, dong!” ujar salah seorang laki-laki yang mengenakan kemeja biru. “Calon mempelai?” tebak yang lain. Kemudian teman-teman sang kakak langsung sibuk bersiulan mengejeknya. Jinri memandang kakaknya kesal, membuka mulut hendak protes.

Barangkali saat itu Jinri sudah mengucap kata, barangkali belum. Tak ada yang tahu. Sebab kalaupun sudah, maka suara Jinri akan terendam oleh suara lainnya yang baru datang.

“Hai, semua. Hosh,” sampai dengan napas ngos-ngosan, orang itu. “Sori telat. Si Minho bawel banget, gue mesti nungguin sampe dia berangkat duluan.”

Jinri tersedak, memandang kakaknya bingung. “Minho?”

Kemudian mereka bertatapan dan Jinri jatuh hati dengan mata birunya yang berkilau.

.

Jinri tahu mata biru itu tidak nyata—pasti contact lense dan bahwa nama Minho bukan hanya milik satu orang di dunia ini. Sewaktu ia sekolah dasar saja ada sampai tiga orang yang bernama Minho di sekolahnya. Tapi kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya ketika mereka bertatapan tak bisa Jinri pungkiri.

Lalu ketika berada di rumah justru menambah kebosanannya, sang kakak menyuruh Jinri pergi keluar. “Jalan-jalan sana. Nggak guna banget lo di rumah. Mending kalo bantu beres-beres kek, masak kek, apa gitu. Lah ini, kerjaan cuman baring doang, nonton teve, makan, tidur. Lagi liburan ya, lo? Skripsi nungguin tuh!”

Setelahnya ketika Jinri tak kunjung bergerak, kakaknya bilang nanti bakalan ada tamu makanya Jinri disuruh beli kue cemilan dan sebagainya. Maka pergilah Jinri ke luar. Di musim semi. Dengan baju tipis. Dan tanpa payung.

Karenanya Jinri tak menyalahkan diri sendiri dan siapa pun yang bisa ia salahkan ketika akhirnya hujan turun. Lebat. Dan Jinri tak membawa payung dan ia baru saja keluar dari toko roti. Sempat terpikir untuk menelpon kakaknya dan meminta jemput, namun niat itu ia urungkan. Jinri di sini. Berdiri di luar toko roti, mendengar suara air, menunggu hujan berhenti.

Kemudian jendela di mobil putih yang baru berhenti di depannya terbuka, menampilkan pemuda itu dengan kemeja abu-abu dan senyum yang lebar.

“Lo Choi Jinri, kan?” kata orang itu. Jinri terlalu sibuk memperhatikan matanya yang tidak biru—cokelat kali ini—hingga tak sempat menjawab. “Ngapain lo di situ? Mandi hujan?”

Merengut. “Bukan, lagi nunggu hujan,” sahut Jinri, tak sanggup mengalihkan pandangan.

“Emang hujan bakal ngejemput dan nganterin pulang?” Ia tertawa. “Lo mau pulang, kan? Bareng gue aja, biar sekalian juga.”

Jinri berakhir di kursi depan, di sebelah orang itu. Tanpa ba-bi-bu lagi melajulah mobilnya. Hati Jinri meloncat-loncar setinggi tower pemancar saking senang dan berdebarnya sampai ia tak bisa bersua dan jadi pendiam mendadak. Jinri berbalut jas miliknya, yang justru membuat jasnya jadi basah dan tidak mengeringkan tubuh Jinri sama sekali tapi biarlah. Selama ia memakai baju orang itu dan bisa menghirup wangi tubuhnya yang khas. Pemuda ini lalu menyalakan penghangat.

“Eh, itu kue lo basah juga, nggak?” ucap si pemuda.

Jinri memekik. “Ah, iya! Ya ampun, sampe lupa.” Penutup kuenya lembab dan ketika dibuka, sebagian black forest yang ia beli hancur terkena air, tak lagi pantas dimakan. Bagian yang masih bagus pun kelihatannya tak akan bertahan lama.

“Duh, ini buat tamu, lagi,” gerutu Jinri, berusaha menyisihkan kue yang masih bisa dimakan dengan yang hancur. Sang pemuda menatapnya penasaran. “Kakak gue nyuruh beliin ini buat tamu yang bakal ke rumah ntar.”

Si pemuda melirik kuenya dan bergumam, “wah, black forest,” sebelum kemudian tertawa.

“Apa yang lucu?” Jinri merasa ditertawakan.

“Kakak lo lucu.”

“Hah?”

Tapi sang pemuda membawa mobil ke tepi jalan kemudian berhenti. Ia lalu tersenyum pada Jinri sebegitu tampannya sampai Jinri tak sempat bertanya kenapa ia menghentikan mobil padahal belum sampai juga tak mendengar jelas apa yang barusan dikatakan si pemuda. Jadi ia mengulang.

“Kita makan sekarang aja yuk, kuenya,” ajak si pemuda dan meraih kotak kue dari panggkuan Jinri.

“Tapi ini buat tamu.”

“Dan sudah jelek dan hancur dan lembab. Liat tuh bagian ini aja udah lepek banget,” tunjuk si pemuda ke bagian yang terkena air. “Masa mau ngasih ginian ke tamu? Udah, kita makan aja yang ini, terus gue beliin lagi yang baru buat tamunya kakak lo. Anggaplah kita berpesta kecil-kecilan.”

Jinri medengus. “Ngerayain apaan? Kuenye jelek gini.”

“Ngerayaain berbunganya perasaan gue.”

Jantung Jinri mau copot.

Untungnya si pemuda berhasil menjaga kestabilan detak jantungnya Jinri dengan mengajaknya mengobrol hal-hal ringan seperti Jinri berkuliah di mana, sudah di mana perkembangan tugas akhirnya, kenapa berhenti dan lain sebagainya. Jinri pun jadi mengenal bahwa si Lee Taemin merupakan junior kakaknya, mereka berkuliah di fakultas dan berkutat di organisasi yang sama ketika kuliah dan masih menjalin hubungan baik sampai sekarang.

Jinri tak ingat apa ia tadi telah menjelaskan lokasi rumahnya, tapi Taemin berhasil membawa Jinri sampai depan pintu. Bahkan berkata ingin memberikan kue yang baru mereka beli pada kakak Jinri (black forest sebelumnya telah habis, terima kasih) sebagai bentuk                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          permintaan maaf karena telah memakan yang terkena air. Begitu masuk, mengganti dengan sandal rumah serta memanggil kakaknya, Jinri menemukan orang yang dipanggil tengah membereskan pantry.

“Lama banget, Jin! Tamu gue keburu dateng,” komentar si kakak. Kemudian mulutnya terbuka dan bersiap untuk mengomel panjang—nampaknya—sampai Taemin masuk juga ke dalam dengan kue yang baru.

“Hai,” sapa Taemin. Omelan kakak Jinri sukses tertunda. “Nih, black forestnya basah jadi gue makan deh di jalan sama si Jinri, sori.”

Kakak Jinri mengerutkan alis ketika Taemin menaruh kuenya di pantry. “Lo ketemu Jinri di jalan?”

“Iya, tadi dia lagi nungguin hujan buat ngejemput,” angguk Taemin. “Tapi karena hujan tak kunjung datang, jadi gue rebut aja dia duluan. Kasihan, masa gadis cantik begini sendirian aja.”

Kakaknya nyengir lebar dan mengangguk puas.

Mungkin rona Jinri sekarang sudah semerah tomat. Barulah kakaknya menyadari rambut Jinri yang lepek, baju basahnya juga jas Taemin yang masih terlampir di pundak Jinri. Kakak Jinri kemudian menyuruhnya mandi dan berganti pakaian. Dengan senang hati Jinri berendam air hangat, sengaja berlama-lama untuk menikmati hatinya yang tengah berbunga tak karuan.

Jadi begini perasaan senangnya ketika disukai. Jinri sudah lama lupa perasaan itu.

.

Kemudian kakak Jinri memberikan kontak media sosial Taemin pada Jinri—bahkan sebelum Jinri minta sekalipun. Jinri curiga kakaknya itu tahu tentang perasaannya.

Yang ditanya menampilkan ekspresi bingung dan ragu, tapi yang keluar dari mulut kakaknya justru, “Siapa tahu butuh…”

Ya sudah. Jinri terima tentunya dengan senang hati.

Taemin bekerja di perusahaan penerbitan pada bagian keuangan. Ia baru masuk sekitar setahun setengah dan Jinri tak habis pikir darimana ia dapatkan mobil putih yang dibawanya kemarin, tapi tak pentinglah, Jinri tak peduli. Taemin ramah pada semua orang, senang tersenyum dan senang menggoda—terutama menggoda dan mengejek Jinri. Taemin nampaknya menganggap kakak Jinri sebagai sahabat baik. Taemin juga senang merayakan apa pun. Misalnya,

“Untuk apa?” tanya Jinri, menerima kertas tersebut dan membuka. Tulisannya kira-kira mengatakan selamat pada Jinri karena telah memutuskan untuk kembali menekuni tugas akhirnya. “Kan cuman baru ‘memutuskan’ doang, belum mengerjakan total lagi,” protes Jinri.

Taemin mengangkat bahu tak peduli. “Memutuskan untuk memulai itu pilihan yang berat. Harus tanggungjawab sama pilihan yang dibuat. Jadi biar semangat ngerjainnya, harus dirayain.”

Jadi malam itu sehabis Taemin pulang kerja, Jinri menemuinya di cafe yang lain.

“Ini pesta,” ujar pemuda itu.

Memikirkan betapa pedulinya Taemin dengan tugas akhir Jinri membuatnya senang tak karuan, dalam hati mencatat untuk menjaga semangat ini agar tetap membara selama ia mengerjakan tugasnya, supaya terus berkomitmen dan tak goyah berjuang sampai akhir.

Ketika Taemin sedang membicarakan pengalamannya di suatu organisasi saat kuliah, munculah orang yang sangat Jinri tidak harapkan.

“Ngapain lo ke sini?” tanya Jinri pada kakaknya, tak malu-malu menunjukkan rasa tidak sukanya.

“Aku yang ngundang,” senyum Taemin pada kakak Jinri. “Perayaan penting begini, masa keluarga kamu nggak diundang, Jin.”

Jinri tersipu begitu sadar Taemin memanggilnya dengan ‘aku-kamu’, sampai tidak memerhatikan kenapa kakaknya malah mengambil kursi dari meja lain dan duduk di sebelah Jinri, padahal kursi di sebelah Taemin masih kosong. Kemudian Jinri sadar Taemin bawa-bawa keluarga, dan Jinri semakin terbang begitu sadar bahwa Taemin hendak serius padanya.

.

Tak ingin jauh dari Taemin, Jinri memutuskan mengerjakan tugas akhirnya di rumah, tidak kembali ke kamar sewaannya yang dekat dengan kampus. Toh jarak rumahnya dengan kampus hanya satu jam setengah dengan kendaraan umum.

Setiap kali bosan melanda, Jinri akan membuka ponsel dan menatap foto Taemin yang tampan luar biasa dengan tindik hitam di telinga kanannya dan kemeja biru yang ia kenakan. Seperti saat ini. Malam semakin kelam, Jinri semakin ngantuk, dan ketika foto Taemin tak juga membangunkannya, maka yang Jinri butuhkan adalah kopi. Bangkit dari kursinya dan hendak keluar kamar, menuju dapur, ketika Jinri tak sengaja mendengar suara kakaknya yang menggeram kesal dari ruang teve.

“Nggak bisa, aku sudah nggak kayak begitu lagi…”

“…Tolong, stop.”

“… ama, plis.”

Ketika kakaknya mendesah dan Jinri mendengar suaranya merebahkan diri di sofa, barulah Jinri memutuskan untuk keluar. “Siapa? Mama?” tanya Jinri. Kakaknya menoleh ke arah pintu kamar dan tersenyum lemah menatap Jinri.

“Hai, Jin,” lalu mengajak Jinri duduk di sebelahnya di sofa.

“Mama nelpon kakak lagi?” ulang Jinri. Menyadari Jinri memanggilnya kakak, ia lalu merapatkan diri ke Jinri dan merangkul pundaknya. “Mau apalagi dia? Mau perhiasan? Mau duit? Hak asuh?”

Kakaknya tertawa. “Sebenci itukah lo sama Mama?”

“Kak—”

“Jin, kalau pun lo benci Mama, tolong jangan benci Papa juga. Kapan terakhir kali lo pulang ke rumah?”

“Ini rumah,” jawab Jinri.

Kakaknya tertawa. “Iya, ini rumah gue sekarang, sama kayak kamar kos yang lo tempatin pas kuliah. Maksud gue rumah kita yang sebenarnya.”

“Rumah gue tempat lo berada, kak. Di mana pun lo tinggal, itu rumah gue. Bukan tempat Papa, Mama, atau siapa pun.”

Kakak Jinri mendesah. “Jin, kamu suka sama Taemin, kan?”

Jinri melepaskan rangkulan kemudian menatap mata cokelat kakaknya serius. Pembicaraan ini jadi semakin aneh. Tapi tetap saja pipi Jinri merona dan kepala Jinri menunduk, sudah tak salah lagi mengakui perasaan sukanya pada teman sang kakak.

“Kakak sayang sama kamu, Jin. Tapi kalau kamu beneran suka sama Taemin dan berharap yang terbaik buat dia, kakak boleh minta tolong, nggak?”

‘kakak’.

Jinri mencari sesuatu di wajah kakaknya dan menunggu dia melanjutkan, tapi ponsel kakaknya keburu berdering. Kakaknya melirik ponsel dan mendesah. Jinri berusaha mengintip siapa lagi yang menelpon. “Mama?” tanya Jinri. Kakaknya berdiri, menggeleng dan tersenyum pasrah sebelum mengambil kunci dan pergi ke luar rumah.

Pernyataan kakaknya membuat Jinri merenung panjang. Apa maksudnya? Apa yang mau kakaknya itu bicarakan? Jinri kemudian teringat Taemin dan memutuskan untuk menelponnya.

Sayangnya, telepon yang anda tuju sedang sibuk.

.

Pulang dari kampus setelah berdiskusi dengan dosen pembimbingnya, Jinri dipanggil oleh mbak yang berjaga di resepsionis bawah dan diberikan sebuah paket dan beberapa surat olehnya. Jinri mengucap terima kasih lalu beranjak naik ke atas. Sejauh ini dosennya memperlancar tugas Jinri, bahkan memotivasi dan menyemangatinya, menjanjikan sidang untuknya di bulan depan. Waktu yang ditempuhnya untuk bolak-balik ke kampus dan rumah lumayan lama, membuatnya lelah. Di saat seperti ini akan bagus apabila Taemin menelpon dan menyemangatinya. Atau hanya sekedar memberikan sticker lucu pada chat mereka.

Taemin tak pernah menghubunginya lagi sejak pembicaraan Jinri dengan kakaknya. Seolah-olah Taemin menghindarinya.

Jinri meletakkan surat-surat dan memilah, tentu saja kesemuanya untuk Choi Minho, kakaknya. Makanya Jinri terkejut ketika mendapati kotak berbungkus plastik cokelat besar yang ditujukkan untuknya. Jinri berandai dari siapalah paket ini berasal, mengingat keberadaannya di apartemen Choi Minho hanya diketahui oleh Taemin serta temen terdekat lainnya—yang bahkan tidak tahu alamat lengkap rumah ini. Jinri terkesiap begitu membukanya dan menemukan sebuah kue di dalamnya, dengan krim cokelat yang mengelilingi seluruh lapisan kue, serutan cokelat di bagian atas serta sebuah ceri merah sebagai puncaknya.

Ah, blackforest. Melihatnya membuat senyum Jinri mengembang kecil. Membayangkan kue ini merupakan kiriman dari Taemin membuat hatinya hangat.

Ada sebuah kartu ucapan terselip di pojokan kuenya. Mungkin berisi permintaan maaf dari Taemin karena sudah menghilang beberapa hari terakhir, dan hal-hal manis lainnya. Jinri meraih kartu tersebut dan membukanya. Kemudian tersedak.

Tulis Taemin;

Maaf Jinri,

Blackforest ini kue kesukaanku.

Dan aku mengundangmu ke pesta perayaan

lima tahun anniversary antara aku dan Choi Minho.

Jinri tersedak. Dibacanya kalimat tersebut ratusan, ribuan bahkan berjuta-juta kali sampai matanya perih dan tenggorokannya sesak. Mencari probabilitas bahwa ia salah baca. Mungkin saja Jinri buta huruf mendadak. Mungkin saja Taemin typo. Mungkin saja yang ia maksud adalah Choi Jinri bukan Choi Minho….

Kemudian dibalik kartu tersebut ada foto yang telah dicetak, antara pemuda yang baru-baru ini disukainya dengan kakaknya. Dengan wajah saling berdekatan dan bibir kakaknya yang menempel di pipi pemuda itu.

Lima tahun…

Apa maksudnya semua ini. Apa maksudnya. Apa yang terjadi.

Seharusnya Jinri pingsan dan tersedak dan terkena demam dan lain sebagainya. Tapi Jinri malah kembali meraih mantelnya dan berlari menuju kantor Taemin.

.

                Tangannya bergetar.

Kulit Jinri kebal dan tak bisa merasa. Telinganya jadi penuh dan tak mendengar apa pun. Dengan segenap kekuatannya Jinri berusaha menahan tangis dan berlari menuju elevator, tapi tangannya malah ditahan oleh seseorang.

“Hei, Jin! Ada apa?”

Orang tersebut menahan bahu Jinri dan berusaha melihat menuju matanya. Jinri menelungkupkan punggung tangannya ke hidung dan mulut menahan perih tapi mendengar suara cegukannya sendiri membuat Jinri semakin ingin menangis.

“Jin?”

Jinri mengangkat wajah dan semakin menggeram kesal begitu tahu siapa orang yang memeang pundaknya ini.

“Choi Minho…” geram Jinri, meremas kertas di tangannya semakin erat.

Kakaknya itu menatapnya bingung, “Kamu kenapa, Jin? Kita masuk dulu aja, yuk.” Tapi Jinri bergeming dan kakaknya itu menyadari kertas yang tergulung kusut di tangan Jinri. Choi Minho, dengan alis berkerutnya, meraih kertas tersebut dan membukanya, menemukan kartu dan foto yang dikirim dari Taemin.

“Jin,” ucapnya lemah. Jinri menggeleng-gelengkan kepala dan meninju pundak kakaknya itu. Kemudian sang kakak maju selangkah untuk beranjak memeluk Jinri.

“Maafin aku, Jin,” gumamnya di leher Jinri. “Maafin aku, Jin. Itu dulu, dulu banget waktu masih jaman kuliah dan waktu Mama masih sering neror aku dan aku… waktu itu…”

Jinri terisak makin keras.

“Sekarang aku udah nggak kayak gitu lagi, Jin. Kamu denger sendiri pembicaranku dengan Taemin di telpon kemarin, kan? Awalnya aku pikir Taemin mau membuka hati buat kamu, Jin, jadi aku deketin kalian berdua. Dan… dan aku mau minta tolong sama kamu supaya bisa nyembuhin penyakitnya Taemin. Tapi dia malah…”

Minho memeluk Jinri makin erat.

Matanya tiba-tiba tak lagi bisa melihat dengan jelas, seluruh dunianya nampak kabur. Dan diantara pandangan yang berputar serta pusing yang melanda itu, barulah Jinri bisa melihat segalanya dengan jelas.

Tamu yang dari awal hendak datang adalah Taemin. Kemudian barulah Jinri paham kenapa Taemin berbunga perasaannya ketika memakan blackforest, yang pemuda itu pikir adalah terkhusus dari Minho untuknya. Kenapa Minho menghindari duduk di sebelah Taemin dan terus membantu Jinri…

Oh, ya Tuhan.

Lebih baik Jinri jatuh cinta pada Choi Minho saja sejak awal, kakaknya sendiri.

.

end

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[Sulli Birthday Event] HEARTACHE–Ninischh

  1. Reblogged this on The Osscar and commented:
    Heartache| Romance | PG-15

    Oh, ya Tuhan. Lebih baik Jinri jatuh cinta pada Choi Minho saja sejak awal.

    [penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

    .

    {a party invitation}

    “Ini yang terakhir, ya,” ucapnya dengan senyum kecil.

    Jinri menggeleng tak rela kemudian berusaha meraihnya dengan kedua tangan, namun sayangnya lagi-lagi tak sampai. Jinri tak akan pernah mencapainya.

    Tidak akan.

    .

    Like

  2. Keren!!!! Ceritanya Antimainstream! Walaupun rada geli taoi keren! Gak pernah terduga sebelumnya.. Astaga.. Menurut aku Ini ff yg Pantas Jadi Pemenang.. Kerenlah! Feelnya dapet bgt! Aku suka!!

    Like

Give your opinion juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s